
Menara Syahbandar
Menara Syahbandar yang bisa Anda jadikan sebagai salah
satu wisata alternatif di Jakarta.
Menara ini sebagaimana namanya, dulunya difungsikan
sebagai pemantau kapal-kapal besar yang keluar dan masuk Batavia melalui jalur
laut. Menara ini juga difungsikan sebagai kantor kepabeanan yang merupakan
tempat pengumpulan pajak dari barang-barang yang dibongkar di pelabuhan Sunda
Kelapa.
Menara Syahbandar ini telah berumur tua dan menjadi salah
satu saksi bisu metamorfosa Batavia sampai saat ini. Dibangun pada tahun 1839
menara ini memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi dan penting. Dibawah
menara ini ada sebuah pintu besi yang merupakan pintu masuk ke dalam lorong
bawah tanah menuju ke Benteng Frederik Hendrik yang sekarang menjadi lokasi
Masjid Istiqlal Jakarta.
Pada masa pasca kemerdekaan, sejumlah bangunan yang berada
di sekitar menara ini dirobohkan karena akan digunakan untuk memperluas jalan
yang ada. Sementara bangunan yang berada ditengah-tengah antara menara dan
gedung administrasi kemudian dijadikan prasasti yang ditandatangani oleh
Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin pada tahun 1977 yang mana menjadikannya
sebagai Jakarta KM 0 dimasa lalu.
Dengan semakin bertambahnya usia bangunan menara
menjadikannya nampak sedikit miring sehingga banyak yang menyebutnya dengan
“Menara Miring”. Selain itu, Menara Syahbandar juga banyak yang menyebutnya
dengan Menara Goyang karena posisinya yang berada di tepi jalan Pakin yang
setiap harinya dilewati oleh ratusan truk berat sehingga menambah daya getar
disisi selatan menara. Menara ini sering terlihat sedikit bergoyang ketika
kontainer-kontainer itu melewati bangunan menara yang menjulang setinggi 12
meter tersebut.
Menara Syahbandar ini kemudian dilakukan perbaikan pada
tahun 2007 silam oleh otoritas setempat sebagai bentuk realisasi Program
Revitalisasi Kota Tua yang telah direncanakan sejak tahun 2006 silam.
Namun demikian upaya renovasi tidak seluruhnya menghapus
kenangan-kenangan yang pernah tercipta di bangunan menara ini karena sejatinya
renovasi hanya dilakukan pada bagian-bagian yang dianggap sudah usang dan perlu
perbaikan, bukan melakukan perombakan secara total.
Menaiki tangga menara sampai keatasnya seolah tengah
menapaktilasi sejarah yang pernah terjadi di menara ini. Ketika sudah sampai di
puncak menara maka akan terlihat sejumlah pemandangan kota Jakarta dengan
berbagai dimensinya.
Pelabuhan Sunda Kelapapun bisa terlihat dengan jelas
ketika sudah berada di puncak menara yang bisa jadi akan melayangkan pandangan
Anda ke seratusan tahun ke belakang dimana menara ini masih berfungsi
sebagaimana mestinya.
Ketika menaiki tangga menara, apalagi kalau kebetulan
sedang ada kendaraan besar yang melintas di jalanan Pakin maka akan terasa
menara sedikit bergoyang (sebagaimana diulas diatas). Keadaan tersebut tentunya
akan memberikan sensasi tersendiri karena memang sangat jarang Anda bisa
merasakan goyangan didalam menara seperti mau terjadi gempa.
Dan Anda hanya bisa merasakan sensasi goyangan menara
tersebut di bangunan tua Menara Syahbandar ini. Jumlah anak tangganya sekitar
77 buah. Untuk mencapai ke puncaknya maka Anda wajib untuk melewati keseluruhan
anak tangga tersebut walaupun capai mendera.
Makanya sangat disarankan sebelum Anda menaiki tangga
menara yang jumlahnya puluhan itu mempersiapkan kondisi fisik yang terbaik dan
prima (bahkan kalau perlu mengkonsumsi multivitamin). Namun demikian, ibarat
peribahasa “berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit
dahulu, untuk mendapatkan kesenangan kemudian” sangatlah tepat untuk
menggambarkan kondisi tersebut.
Setelah Anda bercapai ria menaiki puluhan tangga menara
maka ketika sudah mencapai puncaknya maka akan segera terlihat pemandangan
pelabuhan dan kota Jakarta sekaligus. Apalagi kalau Anda datang sore hari yang
mana tak hanya pemandangan eksotis Pelabuhan Sunda Kelapa namun juga bisa
(kalau beruntung) bisa menyaksikan sunset yang diidamkan banyak orang.
Makanya bagi Anda yang belum pernah melihat sunset dari
ketinggian bisa mewujudkan segala keinginan tersebut di Menara Syahbandar ini
dimana Anda bisa melihat momen matahari tenggelam dari atas menara.
Woow pokoknya akan memberikan kesan yang sangat mendalam
dan mungkin Anda tak akan pernah melupakannya! Menara Syahbandar juga dulunya
merupakan titik nol kota Batavia yang berarti patokan pusat perkembangan kota
berada di menara ini. Namun itu dulu sebelum adanya menara yang lebih tinggi
dan lebih terawat.
Pasca dibangunnya Monumen Nasional (Monas) yang lebih
tinggi dan lebih kinclong peran dan julukan menara ini sebagai titik nol
perkembangan kota mulai tergantikan. Menara inipun kini hanya dikenal sebagai
Menara Miring yang hanya berada di gerbang Pasa Ikan Pelabuhan Sunda Kelapa.
Padahal kita tahu bahwa Menara Syahbandar ini dulunya
memegang peranan yang sangat signifikan dalam mengatur lalu lintas laut di
Pelabuhan Sunda Kelapa. Makanya salah satu cara untuk melestarikan keberadaan
menara ini ialah dengan mengunjunginya. Andapun bisa ikut serta dalam
melestarikan bangunan menara ini dengan melakukan kunjungan secara rutin!